Cara Mendidik Anak Usia Dini Menerima Saudara Barunya

cara mendidik anak usia dini

Cara mendidik anak usia dini menerima saudara barunya. Orang tua mana yang tidak bahagia keluarganya bertambah besar. Seperti kata orang dulu, makin banyak anak rejeki semakin ramai berdatangan. Terlepas dari teori bahwa semakin banyak anak maka semakin menderita pula pengeluaran alias kantong kering, menyambut kedatangan anggota keluarga baru tentu menimbulkan kebahagiaan yang mendalam. Sekarang tinggal bagaimana cara mendidik anak usia dini bila anggota keluarga bertambah besar. Sebagai orang tua, tentu mengharapkan keluarga yang akur, saling bahu membahu, dan menyayangi. Betapa indahnya melihat kakak begitu sayang pada adiknya. Agar lebih spesifik lagi, lebih tepatnya pada artikel ini akan menjelaskan cara mendidik anak usia dini menerima kehadiran saudara baru.

1. Libatkan anak dalam keperluan mengandung
Rasa cemas dan tersingkirkan akan muncul bahkan sebelum adik bayi itu lahir. Anak bisa merasa takut dan senang pada saat bersamaan saat menyambut adik barunya. Persiapan menyambut kedatangan anggota keluarga baru sejatinya dimulai bahkan sebelum hari persalinan. Pasangan suami istri tentu tidak heran jika sama – sama bahagia dan bersemangat mempersiapkan anak kedua atau bahkan ketiga, berbeda dengan anak yang sudah ada dari dulu. Perkenalkan anak dengan calon adiknya dengan memberitahu kehamilan dan memintanya menyentuh adik bayi. Kenali pula karakter anak, apakah anak gampang cemburu, atau bahkan protektif pada ibunya. Anak laki – laki cenderung ingin melindungi perempuan yang ia sayangi, pada kasus ini tentu saja ibunda. Mual pada saat hamil tentu tidak terelakkan, maka dari itu, bila anak anda menunjukkan sikap tidak senang melihat ibunya kesakitan, segera jelaskan bahwa bunda baik – baik saja dan rasa sakit ini tidak pantas disalahkan pada kandungan.

2. Yakinkan bahwa adik bayi adalah anugrah bukan bencana
Beberapa anak cenderung tidak bahagia melihat adik bayinya yang baru lahir. Apalagi, jika langkah pertama tidak dilaksanakan. Anak merasa bukan lagi anggota keluarga karena tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan apapun selama masa kehamilan. Kalau sudah begini, tugas orang tua menjadi bertambah. Ayah dan bunda harus meyakinkan bahwa adik bayi sangat lucu, dan sudah menjadi tugas kakak untuk menyayanginya, bahkan kalau bisa, minta bantuan anak untuk turut merawat bayi, apalagi jika usianya sudah menginjak sekolah dasar. Ajari anak secara perlahan bagaimana seharusnya menggendong bayi, mengganti popok bayi, atau minimal menyentuh bayi dengan lembut. Rasa kasih sayang sebenarnya tumbuh ketika dua insan terus berinteraksi, baik interaksi besar maupun kecil. Perlu diingat pula, supaya orang tua tetap menjaga emosi tetap stabil. Ketika bayi lahir, orang tua cenderung merasa protektif pada bayi. Kesalahan kecil yang tidak sengaja dilakukan kakak kadang menimbulkan amarah yang terlalu besar. Semisal saja anak mengelus bayi terlalu kencang sehingga terbangun, reaksi pertama seorang ibu memarahi kakak habis – habisan. Memarahi adalah cara melukai anak paling mudah. Sekali anak merasa benteng telah terbangun dan anak tidak pantas berada di dekat bayi, dari sinilah kebencian dimulai.

3. Luangkan waktu
Drama alias pertikaian paling klasik timbul pada saat ada bayi baru lahir dengan kakak adalah rasa tidak diinginkan oleh ibu. Rasa cemburu dan tidak diinginkan akan menjadi – jadi jika tidak adanya ikatan mendalam antara ibu, bayi dan anak. Kendati demikian apabila langkah kedua berhasil tercapai dengan baik, perkembangan perasaan kakak terhadap adik akan sangat tinggi. Meski demikian, bukan berarti lantas ayah dan bunda menganggap bahwa sang kakak sudah cukup mandiri, dan tidak memerlukan usaha lebih agar keluarga makin harmonis. Anak terutama yang masih berusia sangat muda, yakni sekitar 6 tahunan, cenderung lebih mudah cemburu dibanding anak yang sudah menginjak usia remaja. Remaja adalah masa dimana dirinya ingin berpetualang di dunia, sehingga ketidak hadiran orang tua terkadang bukan menjadi masalah besar karena remaja umumnya paham bayi memang lebih membutuhkan. Namun, anak yang masih kecil sangat rentan bantuan orang tua. Meski anda berhasil membujuk kakak dan sepertinya sang kakak tidak keberatan mengalah, jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih ingin dimanja dan bermain bersama ayah dan bunda. Luangkan waktu untuk bermain dengan sang kakak, atau sekedar menanyakan kabar, dan mengobrol ringan. Apabila sebelum bayi lahir orang tua punya rutinitas bersama sang kakak, jangan sampai berhenti saat bayi lahir. Rutinitas adalah satu – satunya pegangan anak bahwa ayah ibu memang peduli padanya.  

4. Jangan membandingkan
Senjata andalan ayah atau ibu setiap kali anak mulai bertindak serampangan yakni membandingkan anak dengan saudaranya. Kalimat “kamu jangan begitu, tuh, contoh adikmu” dan sebagainya akan sangat melukai perasaan. Memang, sekilas terlihat efektif karena selepas itu anak langsung menghentikan kebiasaan buruknya. Padahal, dengan membanding – bandingkan berarti orang tua hanya peduli pada hasil akhir dan bukan proses terjadinya itu sendiri. Tidak hanya membandingkan dengan saudara, bahkan dengan tetangga atau teman sudah cukup jadi faktor kegagalan cara mendidik anak usia dini menerima adik bayi. Pertama kali dibandingkan mungkin anak memang merasa tidak berguna dan menuntut diri agar lebih baik, tapi 2 kali sampai kali selanjutnya, anak anda mulai merasa kebal dan tidak lagi peduli apa yang dikatakan. Pengaruh hubungan anak dengan saudara menjadi semakin buruk karena masing – masing merasa lebih disayang dibanding yang lain. Berhati – hatilah dalam berkata bila menyangkut cara mendidik anak usia dini.

Sekian tips bagi orang tua supaya si kakak bisa menerima adik kecilnya. Selain mendidik penerimaan, orang tua juga perlu mempersiapkan mereka mandiri seperti makan sendiri. Bagaimana sih caranya? Simak artikel dari Awal Sehat Nestle ini.

This article was written by admin